Syawalan FAI UMY

Syawalan FAI UMY

Yogyakarta (16/08/14), Dosen dan Karyawan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan acara syawalan yang diikuti puluhan orang. Acara bersama sekaligus silaturahmi keluarga besar FAI UMY ini bertempat di restaurant Jambon Resto di Jl. Kabupaten, Yogyakarta. Beberapa dosen dan karyawan pun melepas kerinduan mereka setelah beberapa minggu tidak berjumpa karena libur bulan ramadhan 1435 H kemarin. Sekitar jam 10.30 pagi, acara dimulai dengan disambut Dekan FAI UMY, bapak Mahli Zainuddin,M.Si yang sekaligus menjelaskan beberapa hal terkait dengan kemajuan FAI UMY.

Beliau memberikan dorongan bagi dosen dan karyawan untuk terus meningkatkan kualitas diri karena melihat mahasiswa yang antusias untuk masuk ke fakultas tersebut. Tantangan ke depan, beliau mengutarakan, akan semakin berat dilihat dari jumlah mahasiswa dan tantangan untuk mempertahankan akreditasi fakultas. Semua pihak yang mendengarkan pun, menyetujui saran beliau untuk bekerja lebih baik lagi.

Setelah sambutan berakhir, acara dilanjutkan dengan tausiah ringan dari Ustad Fathurrahman Kamal, Lc., M.SI, selaku Ketua Jurusan Komunikasi Konseling Islam, FAI UMY. Beberapa hal yang dipaparkan beliau terkait dengan nasihat rohani dalam tantangan kehidupan spiritual pada zaman sekarang. Mendukung sambutan bapak dekan, Ust. Fathurrahman Kamal yang sering dipanggil dengan nama Ust. Fathur ini, memberikan penggambaran mengenai Nabi Adam yang diberikan posisi spiritual di dunia oleh Allah SWT. Kehidupan yang penuh dengan kebutuhan infrastruktur baik itu untuk jasmani maupun rohani yang sudah disediakan oleh Allah SWT dengan lengkap patut untuk disyukuri. Ust. Fathur juga menekankan betapa pentingnya komunikasi intrapersonal antara manusia dan Tuhan, yang digambarkan dalam kisah Nabi Adam saat diturunkan ke dunia. Tentunya, tanpa ada campur tangan Tuhan maka manusia pun hanya sebatas manusia biasa yang tidak berbeda dengan kesimpulan teori Darwin mengenai Evolusi.

Tak lupa, Ust. Fathur mengakhiri tausyah singkatnya dengan sebuah pesan bahwa, salah satu unsur kapital yang bisa dikembangkan dalam bangsa Indonesia ini adalah ketika manusia memiliki segala bangunan struktur spiritual yang kuat, dan bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki bangunan spiritual yang kuat. Maka dari itu, ust. Fathur menekankan untuk menyeimbangkan kehidupan. Karena kehidupan itu tidak hanya terdiri dari unsur keduniawian tetapi juga harus mencapai ranah akhirat melalui perbuatan itu sendiri. (FAI)