Promosi DOKTOR Nawari Ismail

April 16, 2010 oleh :

Nawari Ismail berhasil mempertahankan  disertasinya dan meraih gelar doktor di bidang Antropologi hari Jumat (16/04) pada sidang Promosi Doktor di Kampus Universitas Indonesia Depok. Pria yang berprofesi sebagai staf pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta imengajukan diseretasi “Relasi Kuasa Dalam Pengubahan Budaya Wong Sikep”

Pemberian gelar Doktor dalam rangkaian acara Pengangkatan Sumpah Doktor, bertindak sebagai promotor Prof. Jasmine Zaki Shahab, Ph.D. Tampak hadir Wakil Dekan FISIP, Edi Prasetyono, M.I.S, Ph.D, Rektor Universitas Negeri Muhammadiyah Yogyakarta, Ir. HM Dasron Hamid, M.Sc, serta pihak keluarga.

Ditemui seusai promosi doktor, Nawari mengaku senang tetapi juga kurang puas dengan proses pengerjaan disertasinya. “Terus terang menurut saya ini merupakan disertasi yang belum final dan masih banyak hal yang masih harus dibenahi”, ujarnya. Lebih lanjut Nawari mengungkapkan masih banyak catatan lapangan yang belum ia masukan ke dalam disertasinya. “Catatan lapangan yang saya buat ketika meneliti ada sekitar 300 halaman, tapi yang saya masukan ke dalam disertasi hanya 60% saja”, tuturnya. Ketika ditanyakan mengenai definisi dari “Wong Sikep”, Nawari menjelaskan Wong Sikep merupakan satu kelompok masyarakat yang dikenal orang luar dengan sebutan “Orang Samin”.

Kata Samin diambil dari nama seseorang yaitu Samin Surontiko, yang menjadi pendiri kelompok tersebut. Menurut Nawari, Samin Surontiko mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda di masa hidupnya. “Hal itu disebabkan pada waktu penjajahan, Belanda coba mengatur masalah kehutanan yang mengakibatkan petani diharuskan membayar pajak”, tutur dosen luar biasa pada Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta ini memaparkan alasan. Melalui penelitian yang dilakukan sejak Juli 2007 hingga Februari 2008 lalu, Nawari ingin melihat proses bekerjanya kuasa antar pelaku yang tidak setara atau dalam struktur yang timpang secara politik dan keagamaan dalam medan pengubahan budaya wong sikep, karena selama ini kajian mengenai orang Samin lebih difokuskan kepada kebudayaan mereka yang unik. Sebagai contoh dalam hal perkawinan, orang Samin tidak pernah mencatatkan perkawinannya di kantor catatan sipil atau pun Kantor Urusan Agama (KUA). “Jadi prosedurnya mereka menikah di kalangan mereka sendiri dan tidak pernah dicatat di KUA”, katanya.

Penelitian yang dilakukan di daerah Baturejo ini menghasilkan beberapa temuan, di antaranya Wong Sikep yang berada dalam di posisi dominan, cenderung mempertahankan berbagai aturan main yang ada atau regulasi, baik dalam bentuk kebijakan maupun tafsir seperti yang dilakukan oleh aparat pemerintah. Hal ini menandakan bekerjanya kuasa tidak selalu melalui represi dan penindasan, namun ia bekerja melalui regulasi dan normalisasi. Temuan lainnya yaitu Wong Sikep sering dipersepsikan sebagai kelompok yang mudah diubah dan dipengaruhi karena keluguan dan sifat diamnya. Persepsi ini diperoleh dari pernyataan aparat pemerintah yang menegaskan bahwa Wong Sikep hanyalah kelompok kecil yang dibesar-besarkan padahal mereka sudah masuk Islam kecuali segelintir orang dari generasi tuanya. Pernyataan ini memberikan kesan bahwa Wong Sikep adalah sosok yang mudah dipengaruhi dan dikuasai.

Ketika meneliti, Nawari mengalami kendala beradaptasi pada awal penelitian, karena ia belum terbiasa melakukan beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh Wong Sikep di antaranya mengkonsumsi ayam yang telah dipotong namun belum didoakan, minum dari kendi secara bergiliran dan ketiadaan fasilitas WC di daerah tersebut. “Memang di awal penelitian saya sempat merasakan kesulitan tapi akhirnya saya bisa beradaptasi juga. Dulu saya pernah tinggal di Madura dan minum dari kendi secara bergiliran di dalam keluarga. Tetapi karena saat ini saya sudah tinggal lama di Jawa, itu membuat saya harus kembali menyesuaikan diri lagi”, ujarnya tersenyum. Setelah gelar doktor diraih, Nawari akan menjadikan disertasinya sebagai buku karena sudah ada penerbit yang siap untuk menerbitkan,yang rencananya akan terdiri dari dua buku yaitu buku yang berisi kebudayaan yang unik dari Wong Sikep dan relasi kuasa pengubahan budayanya. Nawari berharap buku yang akan diterbitkan ini dapat menjadi sumbangan berharga bagi dunia antropologi. “Selama ini antropologi dipersepsikan sebagai ilmu yang hanya berkutat dengan teori saja tanpa ada implikasi secara praktis bagi proses pembangunan, untuk itu saya berharap disertasi yang akan dijadikan buku ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah”, katanya menutup pembicaraan.

Sumber: http://www.ui.ac.id/id/news/