Program Studi Ekonomi dan Perbankan Islam (EPI) FAI UMY mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) bagi mahasiswa EPI angkatan 2015 pada (15-21/01/2017) ke Jakarta. Rozikan, S.E.I., M.S.I selaku Dosen EPI FAI UMY sekaligus penanggungjawab pelaksanaan KKL EPI angkatan 2015 mengungkapkan,”jumlah peserta KKL mencapai 197 mahasiswa, kegiatan  ini terbagi dalam 2 gelombang. Tiga bus gelombang pertama berangkat pada 15-18 Januari 2017 dan dua bus gelombang kedua berangkat pada 18-21 Januari 2017”. Perlu diketahui bahwa kegiatan KKL ini rutin diadakan oleh Prodi EPI FAI UMY sebagai pembelajaran langsung kepada para mahasiswanya.

Satria Utama, S.E.I., M.E.I selaku Dosen EPI FAI UMY sekaligus dosen pembimbing selama KKL menjelaskan, bahwa dalam pelaksanaan KKL tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tempat-tempat yang dikunjungi mencakup 3 aspek, diantaranya regulator terkait keuangan syariah, lembaga keuangan syariah dan lembaga keuangan non syariah serta tambahan pada sektor bisnis sebagai pelengkap.

“Regulator jelas karena bagi mahasiswa EPI khususnya untuk memperdalam ilmu yang dipelajari selama di bangku kuliah. Kita perlu tahu bagaimana perkembangan lembaga keuangan itu secara umum, serta arah dan pengembangan kebijakan kedepannya. Semua regulator itu ada di OJK dan Bank Indonesia, juga di kementerian keuangan sebagai instrumen keuangan negara dan DSN-MUI sebagai regulator syariah di Indonesia. Koperasi termasuk ruang lingkup dan kajian dari ekonomi perbankan Islam terutama usaha-usaha kecil sebagai bagian yang harus diperhatikan, tidak hanya usaha-usaha besar saja. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan pengembangan usaha-usaha kecil juga perlu kita ketahui dari kementerian koperasi dan UMKM. Hayashi Toys salah satu UMKM yang kita kunjungi”.

Satria menambahkan, “Mengapa harus ke lembaga keuangan, karena supaya tahu langsung bagaimana kendala mereka. Strateginya bagaimana kemudian mereka kedepannya mau seperti apa lembaga keuangan syariah tersebut. Kita mengunjungi Bank Mu’amalat. Selain itu, untuk mengetahui perkembangan perekonomian dunia, alat transaksi keuangan dan sejarah keuangan masa ke masa, kami berkunjung ke Museum Bank Indonesia. Kemudian kenapa ada ke lembaga non keuangan. Contohnya lembaga-lembaga filantropi, karena supaya dapat melihat dari sudut pandang lain dari sisi keuangan ekonomi dan keuangan syariah. Yaitu dari sudut pandang yang sifatnya bukan industry, tapi dari sudut pandang social. Karena ekonomi tujuan utamanya sebenarnya tentang bagaimana mensejahterakan masyarakat. Namun, sekarang mulai ditinggalkan oleh praktek ekonomi yang umum. Seperti perbankan itu hanya menyasar pada usaha-usaha besar. Pemerintah juga hanya sekedar memaparkan terkait angka-angka pertumbuhan ekonomi. Nah, adanya lembaga-lembaga non keuangan tadi atau lembaga social itu memang fungsinya secara langsung menggarap bidang-bidang yang tidak terjangkau oleh pemerintah dan lembaga keuangan yang komersial. Sehingga ekonominya juga tetap terjaga keseimbangannya. Orang-orang yang miskin tadi itu tetap bisa diberdayakan melalui lembaga-lembaga tersebut. Untuk itu kami mengunjungi LazisMu”.

“Mengingat tidak semua mahasiswa mengunjungi lokasi yang sama, harapan kedepannya materi yang disampaikan disana dapat di upload, misalkan saja di youtube prodi. Jadi semua mahasiswa itu bisa melihat lengkap seluruh apa yang didapat di kunjungan. Itu yang masih kurang“, imbuh Satria. (D)