Kekerasan, apapun bentuknya dan atas nama (si)apapun alasannya, tidak bisa diterim dan dibenarkan dalam tatanan kehidupan umat manusia. Apatah lagi bagi bagi umat beragama, dan lebih khususnya lagi bagi kaum Muslimin. Banyak alasan logis yang bisa dikemukakan, mengapa kita menolak kekerasan? Pertama, kekerasan merupakan ekpresi kongkret dari radikalisasi dan gerakan radikal—termasuk yang mengatasnamakan agama atau sambil melantangkan nama Sang Pencipta, Allah Akbar. Kedua, kekerasan dan gerakan radikal sangat dekat dengan dengan anarkisme dan karena itu merusak sistem sosial dan kehidupan manusia yang beradab. Ketiga, kekerasan dan radikalisme tidak pernah diproklamirkan oleh agama yang autentik atau Risalah Islamiyah sebagai pesan dan doktrinnya.

Tanpa harus mengalami, atau apalagi melakukan, kekerasan, hanya kerusakan dan kebinasaanlah yang akan terjadi, baik yang berdampak langsung bagi keselamatan hidup manusia maupun keterjagaan lingkungan sekitarnya. Di tanah air kita sendiri sudah menyaksikan bagaimana tindakan yang jauh dari kedamaian dan keadaban itu telah menelan ribuan jiwa dan menghancurkan harta benda tak terkira. Berkaca pada pengalaman yang buram itu, sejak sekarang dan untuk selanjutnya tidak ada lagi “toleransi” untuk berbagai jenis kekerasan dan radikalisme.

Dalam konteks itulah, kampus perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) perlu menjadi bagian yang proaktif dalam gerakan deradikalisasi dan anti kekerasan. Terlebih lagi bagi Fakultas Agama Islam UMY, sebagai fakultas yang lebih banyak mengkaji studi Islam, maka salah satu kewajiban morilnya adalah turut menebarkan pesan-pesan perdamaian. Sementara itu Muhammadiyah sendiri memiliki pandangan yang kuat dan tegas tentang paham agama dan penerjemahannya dalam realitas kehidupan yang lebih akrab dengan kesantunan, kelembutan, dan kemanusiaan.

Atas dasar pemikiran seperti itu, maka Studium Generale “Pesan Agama: Deradikalisasi untuk Perdamaian” menjadi penting untuk disimak dan ditindaklanjuti bersama. Kuliah umum ini bukan sekedar mengingatkan lagi tentang arti penting kedamaian dan perdamaian, tetapi perlu menjadi daya dorong untuk terus berjuang dalam membumikan pesan-pesan agama yang damai dan menyejukkan untuk kemasalahatan hidup seluruh umat manusia. Di sinilah doktrin Islam sebagai rahmatan lil’alamin menemukan kembali titik labuhnya.

NARA SUMBER

Drs. Djoko Susilo, MA (Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss)

WAKTU DAN TEMPAT

Jum`at, 14 Oktober 2011 (jam 13.00-15.00 WIB) di Ruang Sidang Gedung AR Fakhruddin B lt.5

AUDIENS

  1. Sivitas Akademika FAI UMY;
  2. Pengurus organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus UMY;

Tamu undangan.