Osdi

PEMBUKAAN OSDI 2015

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang merupakan bagian dari amal usaha Muhammadiyah, bukanlah sebuah lembaga pendidikan biasa, melainkan lebih dari itu, UMY adalah instrument dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar. Sebagai wujud pembentukan karakter instrument dakwah bagi mahasiswa baru (maba) UMY yang pada tahun ini berjumlah 5.154 orang, UMY mengadakan Orientasi Dasar Islam (OSDI). Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa baru memiliki keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar sesuai dengan fitrah manusia dan berkomitmen untuk menggembleng diri menjadi muslim yang ideal. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. M. Khaeruddin Hamsin, Lc, MA, selaku Kepala LPPI (Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam) ketika membuka acara OSDI pada Kamis (3/9) di Sportorium UMY.

Khaeruddin menjelaskan, nilai dan ajaran Islam harus mewarnai dan membentuk segala kegiatan akademis di kampus, sehingga tercipta atmosfir keilmuan dan ketakwaan yang sama kondusifnya, dengan demikian diharapkan UMY dapat menjadi rahim tempat lahirnya peradaban Islam yang bertumpu pada pilar-pilar ketakwaan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atas hal itu perlu di adakan kegiatan OSDI. “Bentuk pembinaan yang kami lakukan melalui kegiatan OSDI ini merupakan tahap awal pembinaan mahasiswa baru UMY. Sebagai proses pengkaderan tahap awal dengan waktu singkat, materi yang diberikan kepada mahasiswa bersifat umum, dan mencakup aspek-aspek fundamental yang mereka butuhkan,” ungkapnya.

Sebagai sebuah orientasi, materi pertama OSDI dimulai dari persoalan paling asasi dalam kehidupan beragama, yakni alasan rasional mengapa memilih suatu agama, dalam hal ini Islam. Dengan materi ini diharapkan sikap keberagaman peserta meningkat, dari sekedar mengikuti agama orang tua menjadi beragama berdasarkan pertimbangan pengetahuan, sehingga menjadi suatu keyakinan yang kuat. “Materi mengenai pengenalan Islam penting diberikan kepada mahasiswa baru, mengingat mereka juga mulai memasuki kehidupan kampus dimana kekritisan dan rasionalitas dijunjung tinggi,” tambah Khaerudin.

Perbedaan yang terjadi pada OSDI tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ujar Khaeruddin, yaitu para mahasiswa baru dikembalikan ke Fakultas dan Jurusan masing-masing dan untuk materi pembekalan OSDI sepenuhnya akan diberikan kepada masing-masing Fakultas. Hal ini bertujuan agar Fakultas dan Jurusan mengikuti perkembangan pemahaman Islam mahasiswa dan memiliki keberlanjutan untuk pendampingan setelah dari kegiatan OSDI ini. “Kami dari LPPI pada tahun-tahun sebelumnya yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk kegiatan OSDI ini, namun pada tahun ini kami menyerahkan kepada Fakultas dan Jurusan untuk turut memberikan pendampingan dalam kegiatan OSDI, dan pastinya tidak terlepas dari pantauan LPPI. Dikarenakan pembekalan untuk mewujudkan pembentukan karakter keislaman tidak hanya sampai pada OSDI, melainkan akan diagendakan pendampingan baca al-quran, KIAI (Kuliah Intensif Al-Islam), dan PAI (Pendidikan Agama Islam), yang tentunya sangat memerlukan peran serta Fakultas dan Jurusan,”ungkapnya.

Khaeruddin juga menambahkan, perbedaan OSDI yang ada pada tahun ini juga berkaitan dengan tes baca al-Qur’an. Jika pada tahun-tahun sebelumnya tes baca al-Qur’an ini baru dilakukan setelah pembekalan OSDI usai, maka untuk tahun ini tes baca al-Qur’an tersebut telah dilakukan sebelum OSDI, tepatnya pada saat mahasiswa baru tersebut telah melakukan registrasi ulang. “Jadi, setelah calon mahasiswa baru itu sudah melakukan registrasi ulang, pada hari itu juga kami meminta mereka untuk melakukan tes baca al-Qur’an. Tes baca al-Qur’an ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan mereka dalam mengenal huruf-huruf hijaiyah dan membaca al-Qur’an. Hingga saat ini sudah ada 4845 mahasiswa baru yang telah melakukan tes baca al-Qur’an dan kami juga sudah memperoleh hasil placement test bacaan al-Qur’an mereka,” ujarnya.

Test baca al-Qur’an yang dilakukan di awal tersebut menurut Khaeruddin juga bertujuan untuk memudahkan pihak universitas dalam memberikan pendampingan pada mahasiswa baru. Dengan pelaksanaannya yang dilakukan di awal tersebut, bagi mahasiswa baru yang sudah berhasil mendapatkan nilai A maka akan langsung mendapatkan Syahadah atau bukti bahwa mereka telah lulus ujian baca al-Qur’an. Syahadah tersebut pun akan berlaku bagi sampai mereka akan melakukan pendadaran atau ujian skripsi. “Jika pada tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa yang akan melakukan pendadaran harus melakukan tes baca al-Qur’an dulu untuk mendapatkan syahadah sebagai persyaratan mengikuti pendadaran, maka mulai tahun ini mahasiswa baru yang sudah lulus tes bisa langsung mendapatkan syahadah tersebut. Dan saat mereka akan mengikuti pendadaran, tidak perlu tes lagi. Hal ini tentunya akan memudahkan kami serta mahasiswa itu sendiri. Hanya bagi mahasiswa baru yang belum lulus tes baca al-Qur’annya akan kami beri pendampingan sampai mereka bisa membaca al-Qur’an dengan baik. Kami ingin agar mereka yang awalnya belum bisa membaca al-Qur’an atau yang awalnya hanya mendapatkan nilai E bisa meningkat mendapatkan nilai A setelah kami bimbing,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Rizal Yaya SE., M.Sc., Ak, CA selaku pemateri pada OSDI terkait materi mengenai Islam Sebagai Pilihan Hidup menjelaskan, bahwasannya yang membuat Islam menguasai peradaban pada saat ini yaitu disebabkan oleh karakteristik Islam itu sendiri yang kuat. Karakteristik tersebut meliputi, Insaaniyah (sesuai dengan manusia), Rabbaniyah (Ketuhanan), Syumuliyah (Universal), dan Washabiyah (seimbang). “Kita mempunyai konsep ketuhanan, dan hanya mengenal Allah SWT sebagai tuhan, hal tersebut yang membuat kita yakin sebagai umat muslim, dan Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah dirancang oleh Allah untuk mengatur hidup manusia demi terciptanya kemaslahatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat,” ungkapnya.

Ditambahkan Rizal, untuk menuju kepada Allah SWT, maka manhaj (metode) yang digunakan haruslah manhaj rabbani, yang murni bersumber dari Allah dan dirisalahkan kepada Rasul-Nya yang terakhir Nabi Muhammad SAW. “Hanya Al-Quran satu-satunya kitab suci dari Allah yang masih terpelihara dari perubahan akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, dan kesucian Al-Qur’an dapat terjaga karena memang ada jaminan penjagaan dari Allah,” tutupnya.