YOGYAKARTA, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta baru-baru ini kembali melahirkan Doktor dalam bidang Ilmu Agama Islam, Dr. Muhammad Azhar pada Sabtu 21 Juli 2012 telah melangsungkan sidang promosi doktor, bertempat di aula utama gedung Pasca Sarjana. Sehingga Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ( FAI UMY) bertambah satu doktor bidang Ilmu Agama Islam.

Promovendus gelar doktor tersebut mampu mempresentasikan dan mempertahankan desertasinya dengan baik, sehingga Ia meraih nilai dan predikat sangat memuaskan. Dr. Muhammad Azhar menampilkan disertasi “Studi tentang Etika Politik Mohammad Arkoun” yang dari hasil penelitiannya ini menurut Azhar dilatar belakangi oleh beberapa ketertarikannya kepada tokoh pemikir Islam yang satu ini, diantaranya; pertama, Mohammad Arkoun merupakan salah seorang di antara pemikir Muslim pasca modernis/kontemporer (abad 21) – pasca gelombang Muslim modernis seperti Abduh dan Ridha, kedua, dibanding pemikir lainnya, Arkoun termasuk salah seorang pemikir Muslim yang memiliki kemampuan intelektual untuk mengawinkan antara “otentisitas Islam” dengan wawasan social sciences kontemporer. Ketiga, Arkoun merupakan pemikir Muslim yang memiliki pengalaman hidup di dua tradisi – sejak kecil – yakni Islam (Aljazair) dan (Barat) Perancis yang tentunya sangat berpengaruh dalam mempertautkan dua khazanah peradaban tersebut.

Dari fokus penelitian yang promovendus kemukakan, dari kekayaan nalar etika politik klasik yang perlu ditelaah ulang ternyata memunculkan pentingnya upaya rekonstruksi pemahaman keislaman melalui penggunaan nalar akademis ketimbang nalar ideologis-politik-teokratis, yang kemudian dimunculkan nalar etika politik yang baru dengan sebutan metode studi Islam posmodern. Dalam sidang promosi ini, Dr. Muhammad Azhar juga menyebutkan bahwa di atas fondasi metode inilah perlunya ditegakkan etika politik teokratik maupun humanistik ansich. Pada bagian akhir penyampaian promosinya Azhar menggaris bawahi bahwa wawasan etika politik Arkoun umumnya masih bersifat diskursif, belum mengarah lebih jauh ke wilayah politik praktis. Dengan kata lain, kajian etika politik Arkoun barus ebatas etika individual, belum menuju pada etika politik sosial, prosedural dan institusional.

Pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang pada sidang promosi doktor tersebut hadir cukup lengkap, Rektor UMY Ir. HM. Dasron Hamid, M.Sc, di dampingi Ketua PP Muhammadiyah Dr. H. Haidar Natsir, ketua BPH UMY Drs. H.A. Rosyad Sholeh serta Dekan FAI Dr. Nawari Ismail beserta para dosen dari UMY.