Kemajuan peradaban dunia telah mengantarkan manusia sejagad ke era globalisasi. Globalisasi sesungguhnya buah dari perkembangan yang amat cepat dalam teknologi komunikasi serta peningkatan yang tinggi dalam transmisi pengetahuan dan informasi. Arus globalisasi yang melanda dunia dengan berbagai varian revolusi teknologi transportasi semakin mendekatkan jarak antar berbagai belahan bumi sebagaimana teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil mengeliminir jarak dan selisih waktu.
Faktor-faktor inilah yang kemudian membuat komunitas planet bumi ini menyadari bahwa ragam budaya, ras, aliran dan agama atau berbagai bentuk dan sistem keyakinan tertentu tidak dapat lagi dijadikan sebagai sekat yang membelenggu kreativitas dan inovasi interaksi antar sesama, isolasi sosial dengan berbagai latar belakang mengalami “pembongkaran”, termasuk dakwah dan penyiaran Islam.
Dakwah yang bersendikan amar ma’ruf-nahi munkar secara fungsional memainkan peranan yang sangat penting dalam mengontrol perilaku kehidupan umat Islam dan manusia secara keseluruhan. Namun, perputaran roda kapitalisme global dengan “syahwat” pasar bebasnya yang teramat kencang membuat benteng pertahanan ruhiyah dan spirit dakwah yang teramat luhur itu runtuh perlahan karena mentalitas dan pondasi kepribadian pelakunya tak sekuat dakwah itu sendiri.
Hal terbaca di atas, setidaknya, dapat kita temukan pada catatan Abdi Kurnia Johan, ketua Lembaga Dakwah Al-Azhar (Republika, 15 Oktober 2010). Secara kronologis ia menjelaskan, dalam kurun waktu 1970-an sampai dengan 1990-an fungsi dakwah di Indonesia dijalankan sebagaimana dakwah yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Tayangan-tayangan dakwah di televisi seperti ‘Mimbar Agama Islam’ TVRI pada tahun 80-an menampilkan sosok-sosok dai/muballigh yang memahami konsepsi dakwah yang sesungguhnya, meskipun dengan berbagai tekanan dan represi politik masa itu.
Memasuki tahun 2000-an dakwah mengalami stagnasi. Krisis ekonomi yang sangat dahsyat memutar arah realitas kehidupan masyarakat negeri ini. Fakta ini semakin mendorong sikap pragmatisme masyarakat dalam menyikapi persoalan dan kebutuhan hidup. Sikap pragmatisme umat yang sedemikian rupa semakin menyisakan ruang kekosongan spiritual yang justeru membuat mereka kangen terhadap dakwah yang menyejukkan kegersangan jiwa. Di sinilah kemudian kita dapatkan dakwah tampil dengan wajah yang relatif baru heart-oriented, menata qalbu (tentunya dengan “terpaksa” mengesampingkan tema-tema dakwah lainnya seperti akidah dll karena tuntutan “pasar”).
Sisi lain dari dakwah heart-oriented diam-diam mengkonstruksi opini publik dalam menentukan idola yang sarat dengan nuansa ‘selebritis’ (budaya pop). Masyarakat tidak peduli lagi dengan hakekat dan ke mana dakwah diarahkan, terpenting ialah kekaguman terhadap personifikasi dakwah yang diidealisasi tanpa ‘ukuran’ yang jelas telah terwujud. Nah, pada titik inilah kemudian dakwah, secara sadar ataupun tidak, dipahami oleh masyarakat sebagai sebuah hiburan belaka (entertainment) yang kemudian disitilahkan sebagai “dakwahtainment”.
“Dakwahtainment” telah berhasil membawa dakwah yang luhur itu ke bawah kungkungan “budaya pop” yang tidak lagi mandiri dan independen, tetapi menggantungkan diri pada selera publik. Realitas ini kemudian berhasil membangun konsep diri seorang da’i/muballigh yang samasekali baru dalam khzanah dakwah Islam : berlomba-lomba meningkatkan kapasitas seni dan action guna mempertahankan eksistensi dan popularitasnya.
Hal tersebut tak luput dari pandangan Jalaluddin Rahmat, seorang ahli komunikasi dan retorika dakwah. Di Indonesia, katanya, dakwah tidak memerlukan kapasitas ilmu atau intelektual dari seorang da’i/muballigh karena masyarakat kebanyakan hanya menghendaki penampilan yang artifisial dalam bentuk kepiawaian dalam bernyanyi dan berakting. Dalam hal ini, menurut Kurnia johan, bobot muatan dakwah di Indonesia dapat disejajarkan dengan komedi slapstick (dagelan) yang berakibat pada hilangnya kemuliaan (muru’ah) dakwah itu sendiri.
Untuk mengetahui permasalahan ini secara komprehensif dan holistik serta bagaimana upaya membangun kapasitas sarjana Dakwah dalam memberikan kontribusi terbaiknya kepada umat dan bangsanya. Diskusi ini dilaksanakan atas inisiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Dakwah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang diselenggarakan pada 8 Februari 2011 di kampus Terpad UMY