KEMUNCULAN NASIONALISME BERAWAL DARI GERAKAN DAKWAH

Oleh. Prof. Dr. Martin Van Bruinessen (Utrecht University; The Netherlands)

Martin Van bruinessenLima gerakan dakwah yakni Muhammadiyah, Ahmadiyah, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan Salafiyah, menjadi gerakan dakwah paling penting di abad ke-20. Muhammadiyah, Ahmadiyah dan Ikhwanul Muslimin, menjadi tiga gerakan dakwah yang memiliki keterkaitan dengan sistem demokrasi dan kesejahteraan sosial. Bahkan salah satu diantaranya, yaitu Muhammadiyah, merupakan bagian terpenting dari kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Demikian kesimpulan penjelasan Prof. Dr. Martin Van Bruinnesan, saat menjadi pembicara pada acara kuliah umum “Gerakan Dakwah, Demokratisasi, dan Kesejahteraan Sosial” di ruang sidang utama gedung AR. Fakhruddin A lantai 5 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (24/4). Kuliah umum ini diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Agama Islam UMY, Magister Studi Islam UMY, dan Majelis Pemberdayaan Kader PP Muhammadiyah.

Prof. Martin membagi gerakan dakwah tersebut berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya sejak tahun 1982. Menurutnya, kelima organisasi tersebut adalah gerakan dakwah modern. Selain itu, yang menjadi sasaran dakwahnya adalah orang-orang yang sudah beragama Islam dan bukan orang yang belum memeluk agama Islam. “Gerakan dakwah yang mereka lakukan adalah gerakan dakwah defensif. Gerakan dakwah itu dibuat untuk melindungi dan mempertahankan ke-Islaman orang-orang yang didatangi misionaris,” jelasnya.

Mengacu pada gerakan dakwah Wahabi yang anti kemapanan, tiga gerakan dakwah yaitu, Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan Ikhwanul Muslimin, memiliki kemiripan dengan gerakan Wahabi. “Karena mereka mengajarkan tentang Islam dengan bahasa daerah. Mereka mengajarkan Islam dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh penduduk setempat. Artinya, hal itu semacam demokratisasi wacana keagamaan. Peralihan dari bahasa Arab ke bahasa daerah itu bagian dari perubahan masyarakat yang luas, dan kemudian melahirkan nasionalisme serta cita-cita bangsa,” papar peneliti Islam dari Asia Research Institute, Singapore ini lagi.

Profesor dari Utrecht University, The Netherlands ini melanjutkan bahwa, semangat dakwah yang dibawa oleh tiga organisasi tersebut, kemudian menciptakan akibat sampingan. Akibat sampingan berupa kesejahteraan sosial, muncul karena mereka sama-sama ikut aktif di bebagai sektor civil society (kehidupan sosial masyarakat). “Mereka ikut berperan dan memberikan sumbangan pada dunia pendidikan, memberikan bantuan kepada masyarakat setempat, ikut berperan memajukan perekonomian warga, bahkan juga ada yang aktif sebagai ketua RT atau Kepala Desa. Dari situlah kemudian bangkit dan berkembang demokratisasi dan rasa nasionalisme,” imbuhnya.

Senada dengan Prof. Martin, Rektor UMY Prof. Dr. Bambang Cipto MA memaparkan bahwa, dari tema kuliah umum tersebut sebenarnya dapat diketahui tentang misi agama Islam. “Yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan alam itu bukan umat Islam saja, tetapi seluruh umat di dunia. Misi kita di dunia itu adalah membangun ekonomi dan sosial yang lebih baik, bukan untuk membunuh orang lain. Jadi, harus tahu posisi kita dimana, agar bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan ekonomi dan sosial,” pungkasnya.